0
Home  ›  Dakwah  ›  Opini  ›  Renungan  ›  Tauhid

Tujuan Hidup Manusia

Tujuan Hidup Manusia

Marilah kita merenungkan satu realitas yang paling dekat dengan kita, yaitu kenyataan bahwa kita hidup hingga hari ini. Setiap pagi kita membuka mata, kita melihat dunia, dan kita menjalani rutinitas hari demi hari. Namun, di balik rutinitas yang terus berulang itu, pernahkah kita benar-benar berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: Lalu, hidup ini sebenarnya untuk apa?

Mustahil hidup yang kita jalani ini terjadi begitu saja tanpa arah. Tak mungkin hidup ini tanpa tujuan. Sebagai gambaran sederhana, mari kita lihat sebuah sepeda motor. Di sana ada roda, ada rem, ada lampu, dan ada jok tempat kita duduk. Semua komponen ini dibuat bukan tanpa alasan; semuanya bersifat fungsional, memiliki fungsi spesifik agar motor bisa berjalan dengan aman. Bahkan komponen kecil seperti ornamen atau stiker sekalipun, ia memiliki tujuan dekorasional untuk memperindah.

Jika sebuah benda mati seperti motor saja dirancang dengan tujuan yang sedemikian detail pada setiap bagiannya, bagaimana mungkin manusia—makhluk yang paling sempurna—diciptakan tanpa tujuan?

Pertanyaan “Hidup untuk apa?” membawa kita pada sebuah kesadaran mendalam: Keberadaan kita di dunia ini bukanlah atas keinginan atau kehendak kita sendiri. Kita tidak pernah memesan untuk lahir di bumi, tidak bisa memilih lahir di zaman apa, dan tidak bisa memilih lahir di Indonesia. Kita tiba-tiba ada di sini.

Kondisi kita ini ibarat seorang anak kecil yang diajak pergi oleh orang tuanya. Anak kecil itu dituntun, dibawa naik kendaraan ke suatu tempat. Jika kita bertanya, “Siapa yang tahu tujuan perjalanan itu?” Jawabannya jelas: yang mengajak (orang tua), bukan yang diajak (si anak). Sang anak mungkin tidak tahu ke mana ia akan dibawa, namun ia ikut karena ia percaya pada orang tuanya.

Begitu pula dengan kita. Kita adalah makhluk yang “diajak” masuk ke dalam panggung kehidupan ini oleh Sang Pencipta. Maka, yang paling tahu untuk apa kita hidup bukanlah ego kita, melainkan Tuhan yang menciptakan kita. Dan Allah SWT tidak pernah membiarkan kita tersesat dalam ketidaktahuan. Tuhan selalu memberi tahu tujuan itu lewat kitab suci-Nya. Melalui Al-Qur’an, Dia menegaskan bahwa esensi penciptaan kita tidak lain adalah untuk mengabdi dan beribadah kepada-Nya.

Kebetulan saat ini, kita hidup di era di mana kita bisa belajar sains. Bagi kita yang mempelajari sains—baik sains alam (eksakta) maupun sains pustaka (literatur)—kita akan menemukan sebuah kebenaran yang menakjubkan.

Sains menunjukkan kepada kita betapa alam semesta ini bekerja dengan aturan yang sangat rapi, presisi, dan teratur. Dari perputaran planet hingga struktur terkecil sel makhluk hidup, semuanya berjalan dalam harmoni yang sempurna. Sifat keteraturan yang luar biasa ini adalah bukti ilmiah mutlak bahwa alam semesta ini tidak muncul dari peristiwa kebetulan. Ada perancangan yang maha cerdas (intelligent design) di baliknya. Hukum-hukum alam yang pasti ini menuntun akal kita untuk mengakui adanya Sang Maha Pencipta.

Lalu, apa hikmahnya bagi kita?

Sains atau ilmu pengetahuan setidaknya terbagi menjadi dua bagian penting dalam kehidupan kita:

Bagian dari cara bekerja: Sains memberi kita instrumen, teknologi, dan metodologi untuk mengelola bumi dan menyelesaikan masalah praktis kehidupan.

Bagian untuk memanifestasikan ilmu kehidupan: Sains sejatinya adalah sarana untuk membaca “ayat-ayat kauniyah” (tanda-tanda kekuasaan Allah di alam). Sains seharusnya membuat kita sadar akan posisi kita sebagai hamba, sehingga setiap penemuan ilmiah justru mempertebal iman dan memperjelas tujuan hidup kita untuk mengabdi kepada-Nya.

Oleh karena itu, mari kita sinkronkan kecerdasan intelektual kita dengan kesadaran spiritual. Jangan sampai kita memahami bagaimana alam ini bekerja, namun gagal memahami untuk apa kita dihidupkan di dalamnya.

Alam ini sangat teratur, dan dirancang dengan penuh tujuan. Kita tidak tercipta dari kebetulan, dan kita tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa pertanggungjawaban. Mari kita gunakan ilmu, sains, dan sisa umur yang Allah berikan hari ini untuk memenuhi tujuan sejati penciptaan kita, yaitu menjadi hamba yang bertakwa dan bermanfaat di muka bumi.

(Sumber: Tulisan FB Ust Choirul Anam)

Posting Komentar
Cari
Menu
Warna
Bagikan
Additional JS