Negeri Ini Kekurangan Solusi… atau Kekurangan Keberanian?
By AGR
Kemarin saya lagi iseng baca berita. Satu berita selesai, muncul berita berikutnya. Scroll lagi. Muncul lagi. Lama-lama saya ketawa sendiri. Bukan karena lucu. Tapi karena pola ceritanya kok mirip semua.
APBN defisit… solusi yang dibahas sering kali bagaimana menambah penerimaan negara. Pake apa? Pajakkkkkk…
Betollll sodara sodara se tanah air dan sebangsaaaaaa
Korupsi terjadi… muncul usulan memperbaiki kesejahteraan aparat agar insentif untuk korupsi berkurang. Apa arti nya? Naikin gajiiiiii biar kaga korupsi… duh najissss banget yah akuuuu
Ekonomi melambat… pemerintah mencari berbagai program untuk mendorong aktivitas ekonomi. Bikin kopdes dimana mana.. korupsi mbg dimana mana…
Harga-harga naik… masyarakat diminta berhemat. Ayooo kamu pasti bisa hei rakyat rakyat dalam negeri….
Nilai tukar rupiah melemah… muncul berbagai penjelasan bahwa dampaknya berbeda bagi tiap kelompok masyarakat. Maksudnya petani ga pake dollar… awok awok awok 🤣
Selama ini saya diam…
Melihat itu semua…
Saya diam….. saya akan lawan 😭😭😭
Ga deh, ga jadi.. ga berani aku mah…
Nunggu sadar sendiri aja rakyat nya konoha…
Lalu saya bertanya dalam hati.
Kok rasanya setiap masalah selalu diobati setelah sakitnya muncul?
Jarang sekali kita duduk bersama mencari akar kenapa penyakitnya terus datang.
FAKTA
Tidak bisa dipungkiri.
Indonesia adalah negeri yang luar biasa kaya.
Tambangnya banyak.
Lautnya luas.
Hutannya besar.
Tanahnya subur.
Penduduknya produktif.
Tetapi dalam waktu yang sama…
kita juga terus membaca berita tentang korupsi, efisiensi anggaran, kenaikan biaya hidup, persoalan pendidikan, lapangan kerja, dan berbagai tantangan ekonomi.
Sebagian masalah memang baru.
Sebagian lagi sudah kita dengar sejak saya masih sekolah.
SEBAB
Menurut saya, ada satu kebiasaan yang sering terjadi.
Kita lebih sibuk memadamkan api…
daripada mencari siapa yang terus bermain korek.
Kalau anggaran kurang…
cari pemasukan.
Kalau ekonomi melemah…
buat program baru.
Kalau harga naik…
cari bantuan.
Kalau ada korupsi…
tangkap pelakunya.
Semua itu penting.
Tetapi…
bagaimana kalau sumber masalahnya belum berubah?
AKIBAT
Kalau akar persoalan tidak disentuh…
kita akan hidup dari satu kebijakan ke kebijakan berikutnya.
Generasi berganti….
Presiden berganti…..
Menteri berganti…..
Program berganti…..
Nama program berganti…..
Logo berganti…..
Tetapi keluhan rakyat…
kadang masih terdengar sama.
Yang berubah hanya judul beritanya. Duilah gustiiiii….
ANALISIS
Saya bukan ekonom….
Saya bukan menteri….
Saya juga bukan profesor….
Saya cuma rakyat biasa yang suka membaca sejarah.
Dan sejarah mengajarkan satu hal.
Peradaban besar tidak runtuh karena kekurangan slogan.
Mereka runtuh ketika mulai kehilangan keberanian memperbaiki fondasi.
Kalau pondasinya miring…
mengecat tembok tidak akan membuat rumah menjadi kokoh.
Kalau sistem pengelolaannya bocor…
menambah pemasukan saja tidak otomatis menyelesaikan masalah.
Pertanyaan saya sederhana.
Apakah kita sedang memperbaiki akar?
Atau hanya memperbaiki gejala?
KRITIS
Saya tidak sedang menyalahkan satu orang….
Karena satu orang datang dan pergi…..
Yang bertahan puluhan tahun adalah sistem….
Kalau sistemnya sehat…
orang jahat akan sulit bergerak.
Kalau sistemnya lemah…
orang baik pun bisa tergelincir.
Maka sebelum kita saling menunjuk siapa yang salah…
mungkin lebih baik kita bertanya…
Apakah aturan main yang kita bangun sudah cukup mendorong keadilan, amanah, dan akuntabilitas?
Karena bangsa ini tidak hanya membutuhkan program.
Bangsa ini juga membutuhkan kepercayaan.
SOLUSI DALAM PERSPEKTIF ISLAM
Dalam pandangan Islam, pemimpin dipahami sebagai pemegang amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya di hadapan rakyat tetapi juga di hadapan Allah.
Islam juga menekankan larangan korupsi, kewajiban berlaku adil, perlindungan terhadap hak masyarakat, pengelolaan harta publik secara amanah, serta tanggung jawab negara untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyat sesuai kemampuan dan ketentuan syariat.
Jaman eropa masih dalam kegelapan, ada peradaban yang gemilang.. cahaya nya terang.. lebih terang dari senter besar…
Ketika islam di terapkan sebagai sistem… semua nya sejahtera.. kejahatan dapat di tekan… keadilan di tegakkan.. rakyat sejahtera beneran cuy.. kapan lagi? Runtuh pas 1924…
Inget bentar lagi era periode mulkan jabariyan.. era diktator euy.. artinya apa…
Will be Chilaphate with prophet methode.. musned of ahmad.
Kadang saya berpikir…
Mungkin negeri ini bukan kekurangan orang pintar.
Bukan kekurangan pejabat.
Bukan kekurangan ahli.
Yang sering terasa kurang…
adalah keberanian untuk bertanya lebih dalam.
Karena selama kita hanya sibuk mengganti obat…
tanpa mencari penyebab penyakitnya…
mungkin kita akan terus menjadi pasien…
yang merasa sembuh…
padahal sebenarnya hanya sedang menunda kambuh.
Yuu bersatu, bergerak, membumikan Al-Quran
Bogor yang kelam
23:27